Pengunjung PGT

Minggu, 22 November 2015

Kisah Sileang Nagurasta

Tersebutlah Ompu Mulajadi Nabolon (yang berkuasa menurut kepercayaan orang batak dimasa lampau), yang konon katanya bertempat tinggal di langit. Ada sepuluh orang putranya tiga laki-laki dan tujuh orang perempuan. Yang tercantik diantara ke tujuh anaknya yang perempuan adalah Siboru Leang Nagurasta. Dia pulalah yang bungsu dari kesepuluh bersaudara anak Ompu Mula Jadi Nabolon. Selain beranak Ompu Mula Jadi Nabolon juga mempunyai seorang saudara perempuan. Itulah yang menganakkan Sudiraja Simbolon.

Sekali peristiwa Sudiraja Simbolon pergi berburu ke lembah bukit Pusuk Buhit. Dalam perburuannya itu dia melihat seekor burung tekukur yang amat cantik, sehingga timbul keinginannya untuk menangkap dan membawanya pulang. Sayangnya tidak begitu mudah untuk mendapatkan burung itu. Tak ubahnya seperti kata pribahasa : “Jinak-jinak merpati”, rasa-rasa akan dapat ditangkap, namun begitu akan dipegang dia melompat dan menjauh ketempat lain. Begitu asiknya Sudiraja mengejar burung itu dari sebuah tempat ke lain tampat, dengan tak disadarinya dia telah sampai di puncak bukit. Disana didapati sebuah tempat permandian, tempat putri-putri Ompu Mula Jadi Nabolon berenang dan berkecimpung bersukaria.

Ketika Sudiraja sampai disitu didapatinya ketujuh puteri sedang mandi-mandi. Dia sangat terpikat dengan kecantikan si Leang Nagurasta, yang memang tercantik dari ketujuh bersaudara. Timbul keinginannya untuk mendapatkan gadis itu, tetapi belum tahu cara yang dapat dilakukannya. Namun akhirnya diketahuinya juga, yakni dengan jalan mengambil baju tuan putri (dalam versi lain Sudiraja menceritakan hal pemandian tersebut kepada orang tuanya, tapi dia dilarang untuk pergi kesana, bahkan diceritakan Sudiraja pernah dihukum berat sama ayahandanya karna masih saja berniat pergi kesana. Ibundanya memberitahu caranya setelah berulang kali Sudiraja membujuk ibunya.)

Adapun baju bagi putri-putri itu selain penutup tubuh juga bertugas sebagai sayap untuk terbang ke langit ke tempat asalnya. Jika baju itu sempat diambil orang, maka tertutuplah jalan untuk pulang ke langit, dan tinggallah di bumi seperti manusia biasa lainnya. Hal inilah yang rupanya diketahui oleh Sudiraja. Begitulah ketika mandi sudah selesai, maka ketujuh putri itu naik ke darat dan masing-masing mengambil dan mengenakan bajunya. Hanya si Leang Nagurasta juga yang tidak melihat bajunya, sudah dicarinya kesana kemari, namun tidak berhasil ditemuinya. Karena sudah lama menunggu maka hilanglah kesabaran kakak-kakaknya, maka diputuskanlah untuk meninggalkan sibungsu, dan yang lain terbanglah ke langit.

Alangkah sedihnya perasaan si Leang Nagurasta ditinggalkan kakak-kakaknya itu. Tapi apa hendak dikata, karena semua sudah berangkat meninggalkan dia seorang diri. Dan ketika Nagurasta dalam suasana sedih dan bingung itu muncullah Sibolon memperlihatkan baju yang hilang, tetapi tidak dengan maksud untuk mengembalikan. Terkejutlah putri itu mengetahui bajunya ada ditangan seorang pemuda. dicobanya meminta namun si pemuda tidak mau menyerahkan. Sigadis mendekati pemuda itu dengan maksud hendak merebut baju tersebut, tapi Sibolon melompat mengelak diri. Demikianlah diperbuatnya berulang-ulang, sehingga lama kelamaan sampailah mereka ke kampung orang tua Sibolon. Disana pemuda itu hilang dari penglihatan gadis tersebut, tak diketahuinya dimana ia bersembunyi. Dilihatnya ada sebuah rumah, didatanginya dan bertemulah dia dengan seorang perempuan, yang tak lain adalah bibinya (adik ayahnya) sendiri. Maka ditanyakanlah tentang pemuda tersebut oleh Nagurasta, dijawab oleh perempuan itu bahwa dia tak melihatnya. Kemudia diajaknyalah Nagurasta tinggal di rumahnya.

Akan halnya Sudiraja, setibanya dirumah segera menyembunyikan baju Nagurasta yang diambilnya dan segera berbuat pura-pura tidur. Baju itu disembunyikannya didalam sondi. Dia mempunyai sejenis kepandaian dapat mengubah wajah sehingga tak mudah dikenal orang. Beberapa lama dirumah itu Nagurasta sangat benci melihat pemuda tersebut, tapi kemudian Sibolon menukar siasatnya. Diubahnya wajahnya menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan dan dipakainya pula pakaian yang bagus-bagus. Nagurasta yang melihat ada pemuda tampan dirumah bertanya kepada bibinya, yang tak lain dari pada ibu Sibolon tentang siapa pemuda itu. Sejak waktu itu Nagurasta mulai tertarik kepada Sibolon dan menyatakan ingin bersuamikan pemuda itu. Hal itu dapat disetujui oleh Sibolon dan ibunya, maka kawinlah mereka.

Mereka beranak dua orang, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Yang laki-laki yang tua bernama Simbolon Tua Nahodaraja, dan yang kecil perempuan bernama si Mombang Tua. Pada suatu kali Sudiraja ingin mengadakan pesta adat untuk anaknya. Dipukullah gendang dan orangpun menarilah, namun yang paling menarik dari semua itu adalah si Leang Nagurasta juga. Dia menarik karena cantiknya yang tetap saja seperti waktu gadisnya. Tapi dia juga menarik karena dia jugalah yang paling pandai menari diantara orang-orang yang sedang menari, seluruhnya ditempat pesta tersebut.

Raja Sitempang Raja Naibaho adalah seorang raja didaerah Pangururan. Sifatnya keras dan katanya pantang ditolak. Raja ini bersama-sama dengan pengetua-pengetua adat lainnya ingin melihat Nagurasta lebih cantik lagi. Merekalah menganjurkan kepada Sudiraja supaya memakaikan baju terbang yang dibawa dari langit kepada si Leang Nagurasta. Tuan putri itu sendiri tak mau melakukannya karena hal itu akan memisahkannya dengan anak dan suaminya. Jika baju sampai dipakainya, maka ia akan segera diterbangkan ke langit, dan hal itu tidak diinginkannya lagi, karena kasihnya kepada anak dan suaminya.

Raja si Tempang tetap mendesak, dan sebagai usaha pencegahan supaya Nagurasta tidak diterbangkan, maka disuruhnyalah membuat penutup tempat pesta itu dengan langit-langit tujuh lapis. Sesudah itu dipakaikanlah baju itu kepada Nagurasta, ia menerima perlakuan itu dengan peresaan teramat sedih. diciumilah dan ditangisinyalah anaknya, dan dia pun menari kembali. Memang sesudah memakai baju itu kecantikannya bertambah berlipat ganda, dan tariannya tambah lebih mempesona para penonton yang hadir di tempat itu. Pemukul gendang tambah bersemangat memainkan alat-alatnya, dan hadirin dengan tak sengaja terbawa dalam arus tarian, seolah-olah semua terpukau oleh suasana tarian yang dibawakan Nagurasta. Dan pada waktu itulah dia tiba-tiba melayang dari lapangan pesta, terus melambung ke angkasa menembus langit-langit penahan dengan mudahnya. Orang yang hadir terheran-heran, anak-anaknya menangis dan menangis dengan penuh kesedihan, begitupula Sudiraja tak tau apa yang harus diperbuatnya melihat sang istri sudah pulang ke langit.

Dilangit Nagurasta kembali menemui orang tuanya dan saudara-saudaranya yang sudah lama ditinggalkannya. Tetapi mereka semua tidak sudi lagi menerimanya ditengah-tengah mereka. Agaknya mereka menganggap si Leang Nagurasta sudah tidak sesuci semula karena sudah bercampur dengan makhluk manusia di bumi. Sebagai jalan penyelesaian Ompu Mulajadi Na Bolon menyurus Nagurasta untuk pindah ke bulan dan bertempat tinggal disana. Hal itu dipatuhi oleh Nagurasta. Keturunannya dibumi mempercayai bahwa tuan putri itu memang dapat dilihat dari bumi jika bulan sedang purnama. Kepada keturunan Simbolon dipesankan, bahwa jika terjadi gerhana bulan itu tandanya sang putri sedang datang ke bumi melihat keadaan anak cucunya. Hanya saja keturunan yang bermarga Simbolon dilarang meneriakkan dan memberitahukan adanya gerhana terlebih dahulu. Haruslah orang lain yang melakukan hal itu lebih dahulu, barulah boleh diikuti keturunan Simbolon. Keadaan seperti itu kabarnya masih dipatuhi oleh orang-orang bermarga Simbolon.
________________________________________________
Note : Mohon dikoreksi bila ada yang kurang atau lebih.


Salam,

Mengungkap Misteri Asal Usul Nenek Moyang Bongso Batak

Misteri asal usul nenek moyang orang Batak yang hidup di Sumatera Utara, dan sebagian wilayah Aceh Singkil, Gayo, serta Alas, kini sudah mulai diketahui. Dari sejumlah fakta dan hasil penelitian yang dilakukan mulai dari dataran pegunungan di Utara Tibet, Khmer Kamboja, Thailand, hingga Tanah Gayo di Takengon, Aceh, ternyata nenek moyang Bongso Batak berasal dari keturunan suku Mansyuria dari Ras Mongolia.

Fakta ini diungkapkan Guru Besar Sosiologi-Antropologi Universitas Negeri Medan, Prof DR Bungaran Antonius Simanjuntak dalam makalah berjudul “Orang Batak dalam Sejarah Kuno dan Moderen”

Pada masa itu, nenek moyang orang Batak ini diusir oleh suku Barbar Tartar dari tanah leluhurnya di Utara Tibet. Pengusiran itu menyebabkan suku Mansyuria bermigrasi ke pegunungaan Tibet melalui Tiongkok (Cina). Dari peristiwa migrasi itu, saat ini di pegunungan Tibet dapat ditemukan sebuah danau dengan nama Toba Tartar.

“Suku Mansyuria memberikan nama danau itu untuk mengenang peristiwa pengusiran mereka oleh suku Barbar Tartar,” jelas Bungaran seraya menambahkan fakta ini diketahuinya dengan membuktikan langsung melalui penelitian bersama dua rekannya dari Belanda dan Thailand.

Selain melalui peneletian langsung, pembuktian tentang asal usul nenek moyang orang Batak juga diperkuat melalui sejumlah literatur. Antara lain, Elizabeth Seeger, Sejarah Tiongkok Selayang Pandang yang menegaskan nenek moyang orang Batak dari Suku Mansyuria, dan Edmund Leach, Rithingking Anhtropology yang mempertegas hubungan vertikal kebudayaan Suku Mansyuria dengan Suku Batak.

Hasil penelitian dan kajian literatur itu, Bungaran mendapati bahwa setelah dari pegunungan Tibet, suku Mansyuria turun ke Utara Burma atau perbatasan dengan Thailand. Di sini, suku Mansyuria meninggalkan budaya Dongson. Yakni sebuah kebudayan asli suku bangsa ini yang mirip dengan budaya Batak yang ada sekarang ini.

Tak bertahan lama di wilayah itu, suku Mansyuria yang terus dikejar-kejar suku Barbar Tartar kembali bergerak menuju arah Timur ke Kmer Kamboja, dan ke Indocina. Dari Indocina, suku Mansyuria menjadi manusia kapal menuju Philipina, kemudian ke Sulawesi Utara, atau Toraja (ditandai dengan hiasan kerbau pada Rumah Adat Toraja).


Kemudian mereka turun ke Tanah Bugis Sulawesi Selatan (ditandai dengan kesamaan logat dengan orang Batak), dan mengikuti angin Barat dengan berlayar ke arah Lampung di wilayah Ogan Komering Ulu, dan akhirnya naik ke Pusuk Buhit, Danau Toba.

Saat berlayar dari Indocina, sebagian suku Mansyuria melewati Tanah Genting Kera di Semenanjung Melayu. Dari sini, mereka berlayar menuju Pantai Timur Sumatera, dan mendarat di Kampung Teluk Aru di daerah Aceh.

Dari Teluk Aru ini, suku Mansyuria yang terus bermigrasi itu naik ke Tanah Karo, dan kemudian meneruskan perjalanan hingga sampai ke Pusuk Buhit.

“Penerus keturunan suku Mansyuria yang kemudian menjadi nenek moyang orang Batak ini terus berpindah-pindah karena mengikuti pesan para pendahulunya bahwa untuk menghindari suku Barbar Tartar, maka tempat tinggal harus di wilayah dataran tinggi. Tujuannya agar gampang mengetahui kehadiran musuh,” urai Bungaran.

Dari catatan Bungaran, generasi penerus suku Mansyuria tidak hanya menetap di Pusuk Buhit, tapi juga di wilayah Barus, dan sebagian lagi menetap di Tanah Karo.

Lama perjalanan migrasi suku Mansyuria dari tanah leluhur di Utara Tibet hingga keturunananya menetap di Pusuk Buhit, Barus dan Tanah Karo, sekitar 2.000 tahun. Sehingga situs nenek moyang orang Batak di Pusuk Buhit, diperkirakan telah berusia 5.000 tahun.

“Fakta ini diketahui melalui penemuan kerangka manusia purba di sekitar Takengon di daerah Gayo yang menunjukkan bahwa peninggalan manusia itu ada hubungannya dengan Budaya Dongson yang mirip budaya Batak,” beber Bungaran.

Menurut sejumlah literatur, budaya Dongson bisa diidentikkan dengan sikap kebudayaan mengenang (Kommemoratif) kebiasaan dan warisan nenek moyang yang wajib dilakukan oleh generasi penerus keturunan kebudayaan ini.

Budaya seperti ini, masih diterapkan secara nyata oleh orang Batak, terutama dalam rangka membangun persaudaraan horizontal/global. Yakni hula-hula/kalimbubu/tondong harus tetap dihormati, walau pun keadaan ekonominya sangat miskin. Demikian pula kepada boru, walau pun sangat miskin, juga harus tetap dikasihi.
Terimakasih.

Salam.

Tarombo Siboru Marihan Versi Silalahi Tolping

Inilah kisah namboru Siboru Marihan.
Nama si Boru Marihan sebenarnya bernama Siboru Pinondang Bulan.namun nama tersebut tdk bisa disebutkan dengan sembarangan.
Ditikki maridi Siboru Pinondang bulan di topi pasir di tolping dibereng ibana ma parsolu huhut mamalu tagading,lao ma ibana tu topi pasir marpahean.
Di dapaothon parsolu ima ibana.
Tuat ma parsolu i didokma songonon:
Santabi ma disangap muna boru ni raja nami na adong do siluluan nami.
Ninna Siboru pinondang bulan ma:Santabi ma tutu di raja naro,ise do hamu jala lao tudia do hamu?jala ise do hamu?
Ninna si Tampubolon ma:napasahathon tona do au boru ni rajanami tu amangudaku.

Ise goar ni amangudamuna i,ninna siboru pinondang bulan.
Ia goar ni amangudaku ima Silahisabungan.
Pintor dijomba siboru pinondang bulan ma si tampubolon huhut tangis.au do boru ni amanguda munai anak ni amangtua ku do hamuna.
Dungi makkatai ma nasida dohot maksud di harorona.
nungnga takkas huboto namasa i,dang namanjua au da ito molo boanonku hamu tu huta.masa ma annon naso tupa masa ninna Siboru pinondang bulan.

Asa songonon ma i,mareak botari mulak ma annon parmahan i,pintor maringggali do annon akka horbonai tu pasir on marukkori tu tao i.
ihut do annon akka parmahan i sian pudi.
Tolu do anakni ibotoku Silalahi,anakna siahaan di huta doi nuaeng si raja tolping do goarna,anakna sipaitonga sibursok raja,siampudanna si raja bunga-bunga jala diparmahanan do nasida nadua.
jadi hira na marbada ma hita annon hubahen,lokma hudanggurhon sarip hon hira na laho mandanggur hamu,pintor langean ni nasida nadua doi annon.disi mullop tu ginjang pintor tangkup hamuma nasida nadua.lao ma jolo hamu tu tao an paima botari ninna Siboru pinondang bulan.
dung botari maringgali ma akka horboi tu pasir.dilempar siboru pinondang bulan ma sarip nai tu tao,marukkor ma sibursok raja dohot siraja bunga-bunga,disi mullop pintor ditakkup si tampubolon ma nasida nadua
diboan ma nasida dompak tu tano balige,digogo ma malluga jala ditiop si toga tampubolon ma siraja bunga-bunga alai sibursok raja di solu nasada nai.

Makkahitir ma nasida ala gogoni udan dohot alogo,guga ma paniop ninasida di hole i,madabu ma si bursok raja tu tao jonok pulo sibandang.
Tangis-tangis ma parmahan akka dongan nai tu huta huhut mangolai horbona,alai anggo horbo ni si bursok raja dohot horbo ni si raja bunga-bunga dibagasan tao i dope.dipaboa ma namasai.
Marlojong sipintahaomasan dohot si boru simbolon tua dohot Silalahi tu tao pasir.ihut ma sian pudi si raja tolping.jong-jong dope siboru pinondang bulan di pasir i songon tukko-tukko.dipasoro-soro Silalahi ma ibotona i,naeng nongnongonna tu tao i.alai sai diambati na niolina i ma dohot Siboru pintahaomasan.
So jolo,ninna siboru pinondang bulan ,dibukka ma abitna naeng marsaimara.
Marlojong ma nang Silahisabungan tu pasir,nungnga habang ate-ate dohot pusu-pusuna,ninna silahisabungan ma:

Ai nabohado nangkin dibahen ho pahompungki pinondang bulan,boasa bahenonmu songoni? Sotung hu nongnong ho tu tao an,dabu hamu i tu tao i,ninna silahisabungan.
Naeng jombaon ni Silalahi ma siboru pinondang bulan.

Ninna siboru pinondang bulan:So jolo,so hamu sudena,adong sidohononku,huhut naeng bolokkononna ulosna i tu tao i,naro do suruan ni amangtuaku sibagotnipohan sian tano balige,dung marbada hamu najolo holan na susah do halaki.masa ma logo ni ari onom taon singernger,dang tubu be agia aha,masa ma haleon potir,marsinkkor ma jolmai,atturaparon sahat tu sadarion alani haleon potir i.
dipukkul gondang alai dang ro udan.marmanuk ni ampang ma nasida.pandok ni namalo parbinoto adong hansit ni roha ni anggidoli,ima silahisabungan,ima ho among.

Nungnga hudok hian tu nasida ikkon siat do sapatakku tu nasida molo so denggan bahenonna tu paraman ki na dua i.didok nasida ikkon pangolihononna do ninna jala lehononna golat/tano.
Ninna Silahisabungan ma:
bah halak do hape disarihon ho,dirim dang disarihon ho,dang sae dope didok Silahisabungan hatana nungnga pintor dialusi Siboru pinondang bulan:
Palias ma i amang,dang na hubolokkon akka paraman ki tokka do na bolong.

Ninna Silahisabungan ma:
Sip baba mi angkora lapa-lapa,sotunng hunong-nong ho tu tao an.
Dialusi siboru pinondang bulan:Dang mabiar au nongnongonmu,ai nungnga huboto hian i,naung bagian ni siboruadi do gabe dengke,ninna huhut gabe tangis.

Ninna Silahisabungan ma:
Ikkon nongnongonku do ho tu tao nabagas an,,

Olo do au nongnongonmu asalma dilean ho pangidoan kon ninna siboru pinondang bulan,huhut ditiop suri ditanganna siamun dihambirangna ulosna nanaeng bukkaonna,jangge-jangge obut na.
Tao on do sude di ahu dohot liang paridianmi na di Tao Silalahi,ima parjolo.
Paduahon:masa ma galumbang di tao bolak i,i tao silalahi,martimbur sian toru tu ginjang,mangalompas sian ginjang tu toru.
patoluhon:hurang bolak dope tao i parlange-langeanku,ikkon adong namasa sogot tanda ni parbolak nai.

Paopathon:molo manolus manang ise sian tao i diparhasak ni tao dohot galumbang/umbak dohot alogo,dihatahon ma dembanna manang aha ma i,dijouhon ma goarhu:
Namboru,asa tiru nasa hutu-hutu,lentem sitabalon,asa lambok ate-ate asa menak pusu-pusu songon par menak ni Tao Silalahi,dungi ditahuhon ma aek tao i huhut di inum jala diparsuap.menak ma sudena.
Palimahon:Sai unang ma adong borum nasongon ahu,molo adong dope borum na songon au,jaloonna do sogot songon bagian kon.

Ninna Silahisabungan ma:
Holan ido?
Ninna siboru pinondang bulan:hola i do,nungnga bulus be rohakku jadi dekke.
Digora Silahisabungan ma alogo,pintor ro ma hilap. mallisik-lisik ma dohot ronggur,ro ma alogo marpiu-piu,alogo marhaba-haba,udan marhalatukko.dihabangkon alogo i ma siborupinondang bulan.laos i ma dalanna mallojop tu tao silalahi lam balga ma umbak sahat tu Pangururan,nang di Tao ni Balige pe.tung sude do tao na humaliang pulo samosir balga be umbak na
Demikianlah kisah terjadinya hubungan Tampubolon dgn Silalahi,sekaligus legenda siboru marihan yang diyakini oleh orang-orang yang mengaku bermargakan Silalahi Raja.

Kesimpulan : Sebuah pembunuhan karakter terhadap OMPU RAJA SILAHISABUNGAN yang dilakukan oknum-oknum yang mengaku bermargakan Silalahi Raja.
____________________________________________________

Note :
1. Siboru Marihan adalah boru dari Silahisabungan dengan Namboru Pintahaomasan boru Raja Naiambaton
2. Siboru Marihan konon jadi istri pertama Raja Sitempang.



Salam,
Kutip : tarombosilahitolping